INACA yang diwakili Berthon Hutapea dan Yusuf Imanudin pada hari Senin, 22 Juni 2026 menghadiri sosialisasi IATA Safety Audit for Ground Operation (ISAGO) yang dilaksanakan di Tangcity Superblock, Tangerang.

Acara tersebut diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bekerjasama dengan Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (IATA).

Terkait sosialisasi tersebut, perwakilan INACA Yusuf Imanudin memberikan sharing insight sebagai berikut:

“Safety starts from the ground. Without safety on the ground, there is no safety in the air.”

 

Keselamatan penerbangan bukan dimulai saat pesawat sudah terbang, tetapi sejak seluruh aktivitas di darat dilakukan, mulai dari passenger handling, baggage handling, aircraft servicing, penggunaan GSE, hingga koordinasi antar pihak.

Dalam pembukaan workshop, Direktorat Bandar Udara – DJPU menyampaikan bahwa ground operation akan menjadi salah satu fokus penguatan regulasi ke depan. Hal ini juga sejalan dengan arah ICAO yang semakin menempatkan ground handling sebagai bagian penting dari aviation safety ecosystem.

Ada beberapa arah kebijakan yang menjadi perhatian, antara lain penguatan regulasi ground handling, standardisasi kompetensi personel, peningkatan pengawasan Ground Support Equipment (GSE), penerapan Safety Management System pada aktivitas ground operation, digitalisasi, serta peningkatan kolaborasi antara regulator, airport, airline, dan ground handling provider.

Artinya, pendekatan ke depan tidak lagi hanya sekedar compliance based atau memenuhi aturan, tetapi bergerak menuju risk based dan data driven oversight.

IATA juga menekankan pentingnya standardisasi melalui ISAGO (IATA Safety Audit for Ground Operations). Tujuannya bukan hanya audit, tetapi bagaimana seluruh pelaku ground handling memiliki standar yang sama sehingga mengurangi variasi prosedur, human error, dan risiko operasional.

Prinsip sederhananya: “Say what you do and do what you say.”

Memiliki prosedur saja tidak cukup, yang terpenting adalah bagaimana prosedur tersebut benar-benar dijalankan secara konsisten di lapangan.

Hal menarik lainnya adalah implementasi IATA Resolution 753 mengenai baggage tracking. Ke depan, perjalanan bagasi harus semakin transparan mulai dari acceptance, loading, transfer sampai arrival.

Tujuannya bukan lagi sekadar mencari bagasi ketika hilang, tetapi menggunakan data untuk mencegah bagasi tersebut hilang.

Selain itu, industri juga bergerak menuju penggunaan teknologi baru seperti:

– Enhanced GSE dengan sensor dan collision avoidance,

– Electric GSE untuk mendukung sustainability,

– AI untuk monitoring turnaround,

– Automation dan data analytics untuk predictive safety.

Namun ada pesan penting, yaitu “Technology does not replace people, it changes the way people work.”

Teknologi bukan menggantikan manusia, tetapi membantu kita bekerja lebih aman, efektif, dan fokus pada hal yang memberikan nilai tambah.

Ke depan, safety management akan berubah. Dari Investigasi setelah kejadian terjadi, menjadi memprediksi dan mencegah risiko sebelum kejadian terjadi.

Kesimpulan utama workshop adalah bahwa masa depan ground operation dibangun oleh kombinasi:

✅ Regulasi & standar yang kuat

✅ Personel yang kompeten

✅ Proses yang konsisten

✅ Data yang terhubung

✅ Teknologi yang mendukung

Future Ground Operation = Standardized + Connected + Data Driven + Predictive

Karena pada akhirnya “Safety starts from the ground.”

Author