garuda-kini-lebih-baik

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Langkah-langkah perbaikan Garuda diawal 2019 telah semakin nyata, terbukti laporan keuangan kuartal pertama telah membukukan laba bersih sebesar USD 19,7 juta atau setara Rp 276 miliar (USD 1 = Rp 14.038) dibandingkan USD 64,3 juta di kuartal I — 2018. Dipihak lain nilai saham GIAA pada tanggal 22 April, terkoreksi kelevel 478 atau 4,4% dari pada sehari sebelumnya di level 500.

Paradoks tersebut tentunya tidak terlepas dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini khususnya pernyataan dalam debat capres bahwa Garuda morat marit dimana pada rute internasional harus mencapai 120% LF untuk mencapai Break Even Point (BEP) dibandingkan pesaing yang hanya memerlukan 60% untuk BEP.

Pertanyaan akan laporan keuangan Garuda tahun 2018 yang berhasil membukukan keuntungan sebesar US$ 7,15 dari kerugian sebesar US$ 110,2 juta pada kuartal III 2018. Selain itu KPPU telah menyelesaikan penyelidikan dugaan kartel penerbangan domestik dan hasilnya akan diumumkan minggu ini.

Apalagi dengan pernyataan Menhub Budi Karya bahwa Garuda tidak tulus untuk menurunkan Harga Tiket Pesawat (Tribunnews.com, Kamis, 18 April 2019). Untuk itu telah mengeluarkan Kepmen penentuan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah tahun 2019 yang cenderung akan menurunkan harga tiket penerbangan. Maksud interferensi pemerintah untuk menurunkan harga tiket adalah membantu peningkatan arus barang dan orang antara satu provinsi dengan provinsi yang lain sehingga koneksivitas akan terbangun dan pada gilirannya dapat meningkatkan ekonomi khususnya melalui pengembangan pariwisata daerah.

Program Perbaikan Garuda

Didalam analisis bisnis penerbangan, ada tiga aspek yang seyogianya dilakukan untuk meningkatkan kinerja Garuda agar terjadi sustainable growth yaitu program perbaikan fleet plan,program peningkatan pendapatan serta program efisiensi sesuai proses bisnis penerbangan.

Program penataan kembali fleet planning tentunya dibuat berdasarkan prediksi perkembangan traffic 10-15 tahun kedepan, sehingga diharapkan pemesanan pesawat dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar saat itu, baik dari dari aspek jenis pesawat maupun dari aspek konfigurasi seatnya.

Seperti perlu tidaknya CRJ Bombardier dalam kekuatan armada Garuda mengingat spesifikasinya yang sangat unik untuk beroperasi di Indonesia. Kalau perlu melakukan langkah Alm Robby Johan pada tahun 1998 untuk mengembalikan pesawat MD11 karena selain sewa teralalu tinggi juga tidak cocok dengan pasar Garuda saat itu.

Memang manajemen Garuda sudah melakukan program peningkatan pendapatan khususnya di sektor domestik dengan menaikan harga sehingga telah meningkatkan pendapatan bahkan menciptakan keuntungan. Dengan strategi market driving pada segment premium sehingga berhasil menstabilkan supply dan demand apalagi didukung sebagai market leader di segment ini. Namun pada sektor Internasional, program tersebut cenderung kurang berhasil mengingat pola persaingan dan peri laku penumpangnya berbeda.

Untuk itu diperlukan kiat khusus agar dapat meningkatan pendapatan pada rute-rute tersebut, dengan mempertimbangkan target pasar dan perilaku penumpangnya serta peta persaingan seperti penumpang/pesaing ex Jepang tentunya berbeda dengan ex Tiongkok atau penumpang/pesaing ex Singapur akan berbeda dengan ex Perth apalagi diera digital dimana perubahan peri laku konsumen yang didrive oleh penggunaan gagdet secara massif!

Untuk itu masing-masing rute memerlukan strategi marketing sendiri sesuai target customer preference dengan mempertimbangkan beberapa aspek yaitu Refocus on Business Segment pada beberapa rute penerbangan Millennial Segmentation Across the Board tidak hanya terbatas usia namun juga aspek lain karena dipengaruhi perubahan technology  Digitalization yet Human Contact still be intact New competitor shape that Create New Middlemen seperti Traveloka dan Ticket.com Creating New Business Structure seperti Airasia OTA Program efisiensi biaya seyogianya dilakukan sesuai business process dan best practice benchmark mulai dari pengadaan pesawat sampai pengadaan Central Reservation seperti yang dilakukan British Airways dan Emirates untuk mengurangi biaya pegawai/kantor di cabang-cabang Internasional.

Didalam rangka mendapatkan biaya sewa pesawat yang kompetitive Singapore Airlines, Airasia dan Lion air telah membentuk Leasing Company. Seyogianya dipertimbangkan secara cermat pembentukan leasing company untuk Garuda group didalam bingkai holding BUMN.

Dengan pemesanan yang besar kepada Boeing atau Airbus tentunya akan mendapat potongan yang besar pula dan pada gilirannya mendapat harga leasing yang kompetitive seperti yang dilakukan oleh Lion dan Airasia.

Bahkan Lion telah menggunakan Financial Engineering untuk menambah manfaat untuk perusahaan (Lion Air: How a secretive startup became a major player, Nikkei,November 08, 2018)

Dengan semangat Continous Improvement menuju Garuda Lebih Baik. Amin